Selasa, 01 Mei 2012

TIDAK PEDULI

Negeri ini telah menjelma menjadi tempat amat menakutkan. Bukan karena banyak bencana sering singgah. Bukan pula karena banyaknya orang jahat disini. Namun karena para manusianya sudah tidak lagi peduli. Ketidakpedulian inilah penyebab kehancuran suatu bangsa. Maka sebetulnya dari titik ini pula akar daripada seluruh masalah. Rasa itu kini tengah melanda.

Padahal sepertinya sepele; hanya “tidak peduli”. Contoh simpelnya begini, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri misalnya. Saat perut lapar tidak peduli karena kita sibuk memberi komentar satu persatu status teman di jejaring sosial, waktunya istirahat tidak peduli karena ada pertandingan big match dini hari, waktunya belajar tidak peduli karena harus nonton film yang baru saja dirilis. Harusnya yang saat itu kita makan atau meng-istirahatkan tubuh namun kita malah tidak peduli dan memaksa tubuh ini kerja ekstra. Maka ‘sakit’ lah tubuh kita. Tubuh kita ibaratkan sebuah mesin yang juga butuh diistirahatkan. Selain itu juga butuh perawatan rutin agar dapat bekerja maksimal. Maka perawatan itulah sebenarnya rupa lain daripada kepedulian (lawan dari ketidakpedulian). Begitu pula kira-kira analoginya untuk sebuah bangsa. Apabila rasa tidak peduli merajalela, maka jangan diharap segala persoalan dapat terselesaikan. Dan akhirnya bangsa inipun akan sakit dalam waktu lama.

Para pejabat yang korup adalah wujud dari rasa tidak peduli yang tengah menggejala dalam setiap pribadi. Mereka  sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya tanggung jawab. Mereka tidak lagi peduli dengan amanah dari rakyat. Mereka tidak peduli lagi pada sumpah jabatan yang pernah terucap. Tidak peduli betapa besar dosa yang harus ditanggung kelak, tidak peduli betapa berat siksaan di alam akhirat nanti. Hasilnya banyak terjadi penyelewengan atau pejabat yang mbalelo.

Ketika kita berkendaraan contoh lainnya. Sampai pada suatu persimpangan di depan mata ada lampu merah menyala. Tiba giliran yang mendapat lampu hijau yang berjalan. Namun anehnya, dari arah yang lain ada saja kendaraan nyelonong meski rambu berhenti nyata terlihat. Akibatnya, “brak” terjadilah kecelakaan. Bisa jadi orang yang nyelonong tadi tergesa-gesa. Namun sebetulnya kejadiannya adalah Ia tidak peduli. Ia tidak mempedulikan peringatan. Ia tidak mempedulikan peraturan. Ia tidak mempedulikan orang lain. Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan. Tentu semua pihak. Maka sebetulnya rasa tidak peduli ini telah terjadi dalam tingkah laku masyarakat kita dan parahnya sudah dianggap biasa.

Perilaku tidak peduli inipun sudah sampai pada generasi muda. Tak asik rasanya saat usia muda kok tidak punya pasangan, ketinggalan jaman gitu looh...... !! “truk aja punya gandengan, masa kita tidak?” kata seorang muda-mudi yang lagi galau. Pacaran atau menjalin hubungan sebetulnya juga wujud dari ketidakpedulian. Hanya egoisme dan nafsu yang mendominasi walaupun kelihatannya dibalut dengan rasa kasih sayang dan kepedulian tingkat tinggi. Perlu dipertegas lagi rasanya “hanya kelihatanya saja”.

 “semua ini kan aku lakukan karena aku peduli denganmu?”  (romeo)

perhatikan, darimana rasa pedulinya coba, kalau waktunya harus belajar malah diajak sms-an, kalau waktunya ujian malah diajak chatingan, dimana rasa pedulinya kalau tiap makan disuruh bayarin? Jangan sok kuat, kita ini sama-sama mahasiswa kan? Uang saku aja masih minta. Dimana pedulinya coba kalau-kalau orang yang bilang peduli denganmu justeru merusak masa depanmu? Sekarang banyak fenomena LKMD atau kepanjangannya lamaran kari meteng dhisik (yang tidak bisa bahasa jawa kasihan deh lu, hehe). Peduli ? masihkah kita merasa dipedulikan? Tepatnya orang yang pacaran itu hanya mempedulikan dirinya sendiri. Maka cepet-cepet putus dan menikahlah, itu lebih baik.

Ketika kita tidak peduli lagi dengan lingkungan, jangan ditanya alam pun bisa mengamuk. Bencana alam sudah pasti akan terjadi. Kita lihat banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya itu semua ada karena kita sudah tidak peduli. Bumi ini tetap bertahan karena ia diciptakan dengan keseimbangan dan keharmonisan, maka jika sedikit saja kita rusak maka kita tunggu saja kehancurannya.

Sebagaimana uraian diatas bahwa ketidakpedulian akan menimbulkan bencana. Apa jadinya jika generasi muda sekarang ini sudah tidak peduli lagi dengan masa depan negaranya. Semoga pemiliknya lebih peduli lagi. Entah negara milik siapa?  

Selasa, 13 Desember 2011

Muhammad Kecil Hidup Sebatang Kara

Lahir sebagai anak yatim semua orang pasti tidak ingin mengalaminya. Akan tetapi ketentuan yang demikian itu adalah mutlak kekuasaan Allah. Kita hanya bisa menerimanya. Kita tidak bisa memesan misalnya ingin dilahirkan ditengah keluarga kaya raya, menjadi anaknya Bapak itu, Ibu anu, dan sebagainya. Sekali lagi tidak. Semua harus kita sikapi dengan bijak dan dengan mensyukuri takdir yang Allah berikan kepada kita itulah sikap yang paling baik.

Ditakdirkan menjadi anak yatim sejak dilahirkan di dunia itulah yang dialami Muhammad. Betapa beratnya menjadi anak yatim. Saya bisa mengatakan sungguh amat berat sekali sebab membayangkan kisah ayah saya dulu waktu remaja ditinggal mati bapaknya, hidupnya menjadi teramat sulit. Harus kerja walaupun belum cukup usia untuk bekerja, harus menyekolahkan adik-adiknya dan menafkahi keluarga. Mungkin hampir semua anak yatim juga merasakan hal serupa, begitu juga yang dirasakan Muhammad.

Sesuai adat kebiasaan bangsawan arab, bayi Muhammad pun disusukan ke keluarga lain. Adat ini nampaknya masih berlaku hingga sekarang. Biasanya bayi tersebut baru pulang ke rumah orang tuanya sekitar usia tujuh atau delapan tahun. Saat itu, dikalangan kabilah-kabilah yang terkenal dalam menyusukan adalah berasal dari kabilah banu Sa’ad.


Aminah menunggu siapa yang hendak menyusui anaknya. Kemudian datanglah wanita yang hendak menyusukan itu ke makkah. Kebanyakan mereka memang menghindari anak-anak yatim karena masih mengharapkan bayaran dari sang ayah. Oleh sebab itu mereka tak ada yang mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat upah lebih apabila yang mereka susui bukan anak yatim.

Namun, Halimah binti abu dhuaib yang pada awalnya juga menolak Muhammad tidak mendapat bayi lain selain muhammad. Disamping itu juga karena dia memang kurang mampu, dan tak senang jikalau pulang tanpa bayi yang akan disusui. Sehingga Muhammad pun dibawanya juga. Mereka berdoa semoga Muhammad membawa berkah bagi keluarganya. Dikabarkan bahwa setelah muhammad tinggal beberapa tahun bersama keluarga halimah, hasil dari peternakannya pun semakin bertambah. Anak itu benar-benar membawa berkah.

***

Setelah lima tahun dibesarkan oleh keluarga sa’ad, akhirnya muhammad kembali kepada ibundanya. Selama lima tahun itulah Muhammad kecil hidup dilingkungan yang jauh dari keramaian kota. Alam gurun sahara yang keras ikut membentuk keribadian Muhammad. Udara gurun sahara yang jernih dan berada di pedalaman penduduknya hidup tanpa ikatan materi.

Kini Muhammad kecil pulang ke Ibunya. Kakeknya abdl Muthalib menyambut cucu kesangannya dengan riang gembira. Tiada berapa lama kemudian Muhammad diajak Aminah ke madinah untuk berkunjung ke rumah saudara kakeknya. Dibawa juga Umm aiman menyertai perjalanan mereka. Adalah seorang budak perempuan peninggalan Abdullah. Setelah sampai disana, diperlihatkan Muhammad rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta kuburannya. Saat itulah untuk pertama kali Muhammad merasakan sebagai yatim. 

Seorang anak kecil yang baru saja bertemu Ibunya dan keluarganya, kini harus menelan kenyataan pahit bahwa ayahnya telah tiada. Setelah cukup sebulan tinggal di madinah mereka bermaksud kembali ke mekkah. Namun ditengah perjalanan ketika sampai di abwa aminah jatuh sakit kemudian meninggal dan dikuburkan di tempat itu pula. Belum hilang kesedihan ketika mengetahui ayahandanya telah tiada kini Ibunya pun juga pergi dan tidak pernah kembali lagi. Muhammad kecil sedih dengan hati pilu, hidup sebatang kara.

Sudah ditakdirkan menjadi anak yatim, baru beberapa hari mendengar cerita dari ibundanya tentang bagaimana ayahnya dulu, kini Muhammad juga tidak bisa mengadu pada Ibunya lagi. Ibu pergi untuk selama-lamanya. Hidupnya menjadi semakin sunyi, semakin sedih. Tubuh yang masih kecil itu menanggung beban berat, menjadi yatim-piatu.

-Bersambung-

Senin, 12 Desember 2011

Muhammad Dilahirkan Sebagai Yatim

Menceritakan kehidupan sang Nabi mulai dari awal kelahirannya sampai wafatnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis. Walaupun lorong waktu amat panjang membentang dan memisahkan dua manusia berlainan generasi ini. Adalah antara seorang pengagum, pengikut, murid yaitu penulis sendiri dengan sang mahaguru, teladan dan pemimpin besar umat Islam yaitu Muhammad. Akan tetapi dengan mengetahui seluk beluk kehidupan beliau, dengan cara menuliskan kisah hidupnya seoalah-olah membuat beliau hidup didalam pikiran penulis. Meski kami tidak pernah bertemu, namun seolah-olah, ya, seolah-olah, didalam imaginasi penulis Muhammad hidup. Inilah kebahagian yang penulis maksud. Betapa tidak bahagia bisa bertemu Muhammad (walau cuma didalam imaginasi).

Alasan inilah yang memotivasi penulis untuk berusaha merekam jejak sang nabi. Penulis akan berusaha menuliskan kehidupan sang teladan saat masih hidup sampai akhir hayatnya, insya allah.

Diceritakan abdullah putra abdl muthalib yang sudah cukup usia pergi melamar aminah binti wahb binti abdl manaf binti zuhra, seorang keturunan pemimpin suku zuhra. Pada saat pergi melamar aminah, sebagian sumber mengatakan mereka berdua langsung menemui ayah aminah, namun sebagian mengatakan menemui paman aminah. Sebab saat itu ayahandanya telah meninggal sedang aminah berada dibawah asuhan pamannya.

Pada hari perkawinan abdullah dan aminah, abdl muthalib juga kawin dengan hala puteri paman aminah. Dari hasil perkawinannya lahirlah hamzah; paman nabi yang juga seusia dengan beliau.Sesuai kebiasan bangsa arab apabila perkawinan dilaksanakan dirumah pengantin puteri maka selama 3 hari mereka tinggal di kediaman pengantin puteri, baru kemudian mereka pindah bersama-sama ke rumah abdl muthalib.

Tak lama kemudian abdullah pergi meninggalkan isterinya yang dalam keadaan hamil sebab ada misi perdangan ke syuria. Selama perjalanan itu abdullah singgah beberapa bulan ke madinah untuk sekadar istirahat dan juga menemui saudara-saudara ibunya disana. Namun dalam masa itu, abdullah jatuh sakit. Oleh khafilah lain yang bersama-samanya, abdullah ditinggal sementara mereka pulang ke makkah lalu menyampaikan kabar jatuh sakitnya abdullah kepada abdl muthalib selama mereka sampai di makkah.

Mendengar berita tersebut abdl muthalib langsung memerintahkan Harith putra sulungnya yang juga kakak abdullah untuk pergi menjemput abdullah di madinah. Namun sesampainya disana perasaan duka justeru menyelimutinya, sebab diketahui bahwa abdullah telah dipanggil Allah yang hidup mati seseorang berada dalam kekuasaan-Nya dan sudah dikuburkan pula. Kabar duka itupun akhirnya sampai juga ke abdl muthalib, begitu pilunya perasaan orang tua itu mendengar kabar meninggalnya putra kesangannya. Hal itu digambarkan bagaimana penebusannya kepada berhala tiada pernah dilakukan bangsa arab sebelumnya. Demikian juga aminah, hatinya merasa amat sedih ditinggalkan suami yang amat dicintainya.

Sesudah peristiwa itu, beberapa saat kemudian aminah melahirkan seorang bayi. Kabar itu disampaikan ke abd muthalib, alangkah gembira hatinya. Kini pengganti anaknya, abdullah sudah ada. Diangkatlah bayi itu lalu dibawanya ke ka’bah dan diberi nama Muhammad.

Dikalangan orang arab nama Muhammad begitu asing. Orang Quraisy mempertanyakan kenapa dia tidak suka memakai nama nenek moyangnya. Mengenai hal ini abdl muthalib menjawab “kuinginkan anak ini menjadi orang terpuji, bagi Tuhan dilangit dan bagi makhluknya di bumi”.

Muhammad, bayi mungil yang kelak setelah dewasa ditakdirkan menerima risalah dari Tuhan untuk menyebarkan kebenaran. Muhammad yang ditakdirkan sebagai anak yatim kelak akan menjadi pemimpin besar yang pernah hidup di dunia ini, yang ajarannya tidak pernah ditinggalkan sampai kiamat nanti. Sejak kecil alam telah mempersiapkannya untuk menjalankan tugas mahadahsyat dari Allah swt.
-Bersambung-

“Muhammad betapa aku ingin sekali bertemu dengan engkau dan bertanya banyak hal, banyak sekali wahai muhammad...”

Sabtu, 03 Desember 2011

Merekam Jejak Sang Nabi

Menulis itu butuh kesabaran. Menulis itu butuh kemauan. Menulis itu butuh motivasi. Menulis adalah suatu proses yang tidak pernah berakhir. Menulis itu tidak bisa langsung jadi. Menulis merupakan satu peristiwa komprehenship yang tidak bisa dipisahkan antara unsur-unsurnya berupa imaginasi, informasi, ketekunan dan outputnya adalah berupa tulisan.

Demikian kurang lebih yang saya sampaikan kemarin saat memberikan materi mentoring jurnalistik kepada temen-temen Badan Amalan Islam (BAI) FK Unissula pada hari rabu, 30 november 2011.

Saya memang bukan seorang yang ahli dalam dunia kepenulisan. Namun saya ingat pesen (ataukah baru sebuah mimpi) ketua FULDFK yang baru terpilih dalam MUNAS VII di jogjakarta 24-28 nov 2011 kemarin. Beliau mengatakan bahwa organisasi bukanlah sekumpulan orang yang demen bikin acara, dimana mereka dalam acara tersebut hanya menjadi penonton dan pendengar. Mengapa tidak kita yang menjadi pembicaranya? Bukankah organisasi adalah wadah pengkaderan?


Oleh karena itulah, dengan rasa percaya diri tinggi saya yang sebetulnya masih sangat awam sekali dengan dunia tulis menulis berani memberikan materi dalam kegiatan mentoring jurnalistik dengan judul “cara terbodoh menjadi penulis, siapapun anda”. Untuk isi materinya insya Allah akan saya tuliskan lain waktu.

Sebetulnya saya bisa mendatangkan seorang pembicara. Namun bukankah akan menghabiskan banyak biaya dan efek jangka panjangnya, organisasi nantinya malah menjadi lumbung bisnis para pembicara dan bukan menjadi tempat penggemblengan calon pemimpin dimasa depan. Maka saya kemarin juga berpesan kepada temen-temen BAI khususnya divisi kaderisasi untuk membuat acara seperti debat kasus misalnya, daripada membuat pelatihan-pelatihan diisi oleh 'trainer dari luar' yang tiada banyak gunanya. Dengan debat kasus insya allah semakin melatih kekritisan kita dan keberanian kita dalam berpendapat!

Namun saya juga menangkap pesan yang lebih dalam lagi dari ketua FULDFK yang baru, dalam hati saya membatin mungkin beliau juga merasa prihatin atas minimnya kader-kader islam sekarang ini. Seperti pula keprihatinan saya.Dengan alasan itulah, melalui blog KERTAS PUTIH ini, insya allah saya akan menulis biografi nabi Muhammad.

Rencananya blog ini akan saya hiasi dengan tulisan yang berisi rekam jejak sang nabi. Semoga blog ini kedepannya menjadi semakin bermanfaat. Bagi pembaca dan saya sendiri tentunya insya allah bisa belajar dari sifat-sifat Muhammad. Mari kita hidupkan kembali Muhammad melalui tulisan sehingga nanti banyaklah terlahir kader-kader islam yang benar-benar meneladani beliau dan mengamalkan ajaran beliau secara utuh dan murni.

Insya Allah KERTAS PUTIH kedepannya akan fokus membahas sisi kehidupan Muhammad. Mohon doanya.

Nantikan tulisan selanjutnya!

Mari kita dakwah bil-qalam.